Ling Mei yang tersadar dengan situasi mereka setelah Lala mengingatkan mulai merubah cara berbicara dan mengalihkan pembicaraan mereka, namun ia tanpa sadar tetap menggenggam lengan Lynx. "Xiao Ling, aku… bukankah sebelumnya aku keracunan? Kukira kali ini aku akan mati. Aku ingat tubuhku sangat kesakitan sebelum semuanya menjadi gelap. Apa yang terjadi setelahnya?" Leena bertanya dengan nada penasaran, namun untuk menghilangkan kecurigaan, dia memanggil Lynx dengan nama Xiao Ling kembali.

Lynx menatapnya dengan tatapan dalam, tapi sebelum ia sempat menjawab, Lala lebih dulu angkat bicara. "Seseorang menolongmu dan mengobati racunmu. Dan Xiao Ling memberimu Pil Jiwa untuk menyembuhkan jiwamu yang terluka akibat efek racun itu," jelasnya singkat, suaranya terdengar sedikit lebih dingin dari biasanya.

Lala tidak ingin kebahagiaan karena pertemuan ini membuat mereka lengah. Ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab, terlalu banyak rahasia yang belum terungkap. Dan yang paling mengkhawatirkan…

Jika Ling Mei yang asli masih hidup, maka… di mana dia sekarang?

Leena tersenyum lembut, matanya bersinar penuh rasa syukur saat menatap Lynx. "Terima kasih, Xiao Ling. Aku tahu… kamu pasti tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padaku," ucapnya dengan suara penuh kelembutan.

Lynx menundukkan kepala sedikit, seolah ingin menyembunyikan ekspresi di wajahnya. Ada kelegaan dan juga rasa bahagia yang terselip di sana. Dia merasa wajahnya memerah dan tidak ingin Leena melihatnya.

Lala, yang sedari tadi diam, mengamati Lynx dengan tatapan yang sulit diartikan. Di dalam hatinya, ia selalu tahu—tidak peduli seberapa besar ia menyukai Lynx, Leena adalah satu-satunya orang yang benar-benar cocok dengannya.

Dan kini, melihat mereka bersama lagi… Lala tersenyum, meskipun dadanya terasa sedikit sesak. Bagi Lala dan Jelita, pasangan Lynx adalah Leena. Mereka tidak akan membiarkan ada orang lain yang berusaha merusak hubungan mereka.

Dengan cepat, ia mengusap air mata yang hampir jatuh dan berkata dengan suara ceria, "Aku tahu banyak hal yang sudah terjadi kepadamu. Tetapi untuk saat ini aku tidak peduli dengan apa yang terjadi sebelumnya. Yang terpenting… kamu sudah bersama kami sekarang, Leena. Itu sudah cukup!"

Leena tersenyum penuh haru. "Terima kasih, Lala…"

Di sisi lain, Li Wei masih berdiri diam, matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya. Ia tidak mengerti semua yang terjadi, tetapi satu hal yang pasti—kakak seperguruannya yang biasanya dingin kini menunjukkan sisi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Leena terlihat berbeda… sorot matanya ketika memandang Xiao Ling terlihat jauh lebih lembut, lebih hangat.

Li Wei akhirnya menghela napas panjang, dia tidak dapat lagi menahan diri. "Xiao Ling…" katanya dengan nada setengah menggerutu. "Aku merasa ada sesuatu yang perlu kamu ceritakan kepadaku. Tapi untuk kali ini aku tidak akan bertanya… ini hanya untuk sementara waktu. Tapi Xiao Ling," suaranya menjadi lebih tajam dan penuh ancaman, "Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu tidak menceritakannya kepadaku kelak!"

Lynx menatap Li Wei dengan tenang sebelum mengangguk. "Aku mengerti," katanya tanpa membela diri.

Li Wei mengerucutkan bibirnya, masih kesal, tetapi kemudian ia melangkah mendekati Leena dan memeluknya erat. "Aku senang… Kak Ling Mei sudah sadar kembali."

Leena tersentak sejenak, lalu tersenyum hangat. Tangannya terulur, mengelus lembut rambut Li Wei.

"Terima kasih, Li Wei…" ucapnya dengan suara penuh kasih sayang. Dalam ingatannya yang baru kembali, ia sadar betapa sering Li Wei menemaninya saat ia masih menjadi Ling Mei. Tanpa ia sadari, anak ini sudah menjadi seperti adiknya sendiri.

Namun sebelum mereka bisa melanjutkan percakapan lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar.

"Cepat! Cepat! Ada yang masuk dan membuat keributan di sekte kita!"

Mata Lynx menyipit tajam. "Sepertinya ada masalah di luar."

Tanpa berkata apa-apa, Guru Yuan segera bergerak. Sebagai seorang guru, menjaga keselamatan murid-muridnya adalah tanggung jawabnya.

Lala mengepalkan tinjunya, sorot matanya berkilat marah. "Siapa yang berani membuat kekacauan lagi? Apakah mereka tidak takut pihak kerajaan Qingxuan akan menghancurkan mereka?"

Namun, berbeda dari yang lain, Lynx tetap duduk dengan tenang. Dengan kekuatannya, dia tidak merasa perlu bereaksi gegabah. Tapi satu hal yang pasti—keselamatan Leena adalah prioritas utamanya. Kini setelah menemukannya kembali, dia bisa lebih fokus mencari penduduk Surya sebelum mereka kembali ke dunia asal.

Leena yang mendengar keributan itu tiba-tiba tersentak. Ingatan akan kejadian yang hampir merenggut nyawanya kembali membanjiri benaknya.

"Li Wei, peringatkan Guru Yuan! Ada pengkhianat di antara para tetua! Ketua sekte… dia telah ditangkap oleh komplotan mereka!"

Leena segera bangkit, tangannya bergerak cepat mengeluarkan seperangkat pakaian baru dari cincin penyimpanan. Dia harus mengganti pakaian secepatnya—pakaian yang ia kenakan saat ini hanya lapisan dalam tipis yang diberikan Li Wei saat ia tak sadarkan diri.

Namun, di tengah gerakannya, suara Li Wei yang lirih menghentikannya.

"Kak Ling Mei…"

Nada suara itu terdengar aneh, seolah ada sesuatu yang berat untuk diucapkan.

Leena berhenti, lalu menatapnya tajam. "Ada apa, Li Wei?"

Li Wei menunduk, ragu untuk berbicara. Namun, akhirnya ia menghela napas panjang, memaksakan kata-kata keluar dari mulutnya.

"Kami sudah tahu… Tetua Huang Jian berkhianat. Tapi dia sudah mati."

Li Wei terdiam sejenak, matanya melirik sekilas ke arah Lynx. Dia tidak tahu apakah kakak seperguruannya menyadari betapa kuatnya pemuda yang berdiri di hadapannya itu.

Tubuh Li Wei masih terasa merinding jika mengingat tetua Huang yang sangat dia hormati dan sangat kuat,  dengan mudahnya dibunuh oleh Xiao Ling bagaikan membunuh semut.

Leena mengepalkan tangannya. "Bagus kalau dia sudah mati! Karena dia, Ayahku, Ling Juan, terbunuh! Tapi bagaimana dengan ketua sekte? Apa dia selamat?"

Li Wei menggigit bibirnya, seolah tidak ingin mengucapkan kalimat selanjutnya. Namun, akhirnya ia berkata pelan, "Jadi kakak sudah tahu mengenai kematian wakil ketua? Ketua sekte… sudah tiada. Seseorang membunuhnya, dan kini sekte kita berada dalam kekacauan."

Mata Leena membelalak, napasnya tercekat. "Apa…?"

Li Wei melanjutkan dengan suara bergetar, "Kami belum pulih karena kekuatan kami telah dihisap oleh bajingan tua Shen Mo."

Nama itu baru pertama kali Leena dengar. Dahinya berkerut, ia menatap Li Wei dengan penuh kebingungan. "Siapa Shen Mo? Bagaimana bisa dia melakukan semua ini?"

Li Wei menjelaskan, "Shen Mo adalah pria tua yang meracunimu, Kak Ling Mei. Dia mengaku berasal dari salah satu klan kuno, tetapi dia tidak menyebutkan dari klan mana asalnya."

Lynx yang sejak tadi diam tiba-tiba mengepalkan tangannya. Tatapannya menjadi begitu dingin dan tajam, penuh dengan amarah yang terpendam.

"Jadi… orang yang telah menyakiti Ling Mei adalah Shen Mo?" Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun penuh dengan ancaman mematikan.

Li Wei menelan ludahnya.

Leena menatap Lynx, menyadari kilatan kebencian dalam matanya.

Genggaman tangan Lynx semakin erat, begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Aura membunuh merembes keluar darinya, memenuhi ruangan dengan hawa dingin yang menyesakkan.

"Shen Mo…" Lynx mengulangi nama itu dengan suara rendah. "Lihat saja… Aku akan membalasnya. Seratus kali lipat dari rasa sakit yang telah kau rasakan, Ling Mei."

Leena terpaku menatap Lynx. Amarahnya bukan sekadar kata-kata… Itu adalah janji yang akan ditepati dengan darah.

"Baiklah, kita bahas ini nanti. Sekarang kita harus keluar dan melihat apa yang terjadi," kata Leena dengan tegas. Tatapannya bertemu dengan Lala dan Lynx, memberi isyarat agar mereka tetap waspada.

Li Wei menatap kakak seperguruannya dengan raut bingung. Sikapnya terasa begitu berbeda, bahkan ia tak lagi malu berganti pakaian di hadapan seorang pria.

"Apa yang terjadi di dunia kecil sebenarnya sehingga Xiao Ling juga sebelumnya meminta maaf. Kenapa juga mereka memanggil kak Ling Mei dengan Leena, bukankah mereka bilang Leena adalah istrinya Xiao Ling?" berbagai pertanyaan muncul di benak Li Wei. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu harus ia pendam. Sekarang bukan waktunya. Dengan cepat, ia menyusul yang lain ke luar ruangan.

